Kapan Kamu Butuh Hitung Mundur
Biasanya kita menghitung dari bruto ke bersih: "gaji Rp10 juta, terima berapa?". Tapi ada situasi di mana arahnya harus dibalik — kamu tahu berapa yang harus kamu terima, dan perlu tahu angka bruto yang setara:
- Pindah kerja — take-home sekarang Rp7,5 juta; supaya tidak turun, harus minta bruto berapa di tempat baru?
- Kebutuhan bulanan sudah pasti — cicilan dan biaya hidup butuh sekian, jadi target bersihnya sudah jelas duluan
- Membandingkan tawaran — satu perusahaan menyebut angka bruto, satunya menyebut angka bersih. Tidak bisa dibandingkan sebelum disamakan basisnya
Itulah fungsi Kalkulator Gaji Kotor: kebalikan dari Kalkulator Gaji Bersih.
Tiga Jenis Kontrak: Gross, Gross-Up, dan Nett
Sebelum menghitung, pastikan dulu skema kontraknya — karena angka yang sama bisa berarti tiga hal berbeda:
- Gross — angka di kontrak adalah bruto. Pajak dan iuran BPJS bagianmu dipotong dari situ, jadi yang kamu terima lebih kecil. Ini yang paling umum.
- Nett — angka di kontrak adalah yang kamu terima. Pajaknya ditanggung perusahaan sebagai tunjangan.
- Gross-up — perusahaan menaikkan bruto sedemikian rupa sehingga setelah dipotong pajak, hasilnya persis sama dengan angka yang dijanjikan. Beda dengan nett dari sisi administrasi pajak, tapi efek ke kantongmu mirip.
Pertanyaan yang wajib kamu ajukan ke HR: "angka ini gross atau nett?" Satu kalimat ini bisa mengubah nilai tawaran hingga belasan persen.
Kenapa Tidak Bisa Dibagi Begitu Saja
Godaan terbesar adalah menghitung "kalau potongannya sekitar 10%, berarti bruto = bersih ÷ 0,9". Sayangnya tidak seakurat itu, karena dua hal:
- Tarif TER berlapis — persentase pajak naik seiring naiknya bruto. Saat kamu menaikkan bruto untuk mengejar target bersih, tarifnya bisa ikut pindah lapisan, jadi perlu naik lebih banyak lagi. Hubungannya tidak linear.
- Iuran BPJS punya batas atas — BPJS Kesehatan dan JP dihitung dari batas upah tertentu. Di atas batas itu, potongannya berhenti bertambah, sehingga rasio potongan terhadap gaji justru mengecil.
Karena itu kalkulatornya bekerja dengan cara mencoba angka bruto lalu mengoreksi berulang sampai hasil bersihnya persis menyentuh targetmu — bukan sekadar membagi. Status PTKP juga berpengaruh, jadi pastikan memilih yang sesuai.
Memakai Angkanya Saat Negosiasi
Beberapa hal yang membuat posisi tawarmu lebih kuat:
- Sebutkan basisnya — "saya mencari di kisaran Rp12 juta bruto" jauh lebih jelas daripada "sekitar 12 juta". Ini juga menandakan kamu paham struktur gaji.
- Bandingkan total, bukan hanya gaji pokok — tunjangan tetap ikut menambah dasar perhitungan THR dan pesangon; tunjangan tidak tetap (uang makan/transport harian) tidak. Dua tawaran dengan angka total sama bisa berbeda nilainya.
- Perhitungkan biaya pindah — kenaikan 15% bisa habis oleh ongkos transport dan sewa yang lebih mahal. Cek juga posisi angkamu terhadap UMR kota tujuan.
- Cek kenaikan riilnya — setelah pajak dan inflasi, kenaikan nominal bisa menyusut. Hitung di Kalkulator Kenaikan Gaji.
Yang Perlu Dicek di Offer Letter
- Rincian komponen — gaji pokok berapa, tunjangan tetap berapa. Kalau hanya tertulis satu angka all-in, tanyakan pembagiannya.
- Skema pajak — gross, nett, atau gross-up.
- BPJS — didaftarkan program apa saja, dan dari dasar upah berapa (beberapa perusahaan mendaftarkan hanya dari gaji pokok, bukan total).
- THR dan bonus — dasar perhitungannya apa, dan apakah bonus bersifat tetap atau tergantung kinerja.
- Tanggal gajian & cut-off payroll — menentukan kapan gaji pertamamu cair dan apakah bulan pertama dihitung prorata. Simulasikan di Kalkulator Gaji Prorata.
Contoh Perbandingan Dua Tawaran
Tawaran A: Rp11.000.000 bruto. Tawaran B: Rp10.000.000 bersih. Sekilas A terlihat lebih besar, padahal setelah A dipotong pajak dan BPJS, hasil bersihnya bisa berada di bawah B.
Cara membandingkan yang benar: pakai Kalkulator Gaji Kotor untuk mencari bruto yang setara dengan Rp10 juta bersih, lalu bandingkan angka itu dengan Rp11 juta. Baru terlihat mana yang benar-benar lebih tinggi. Setelah itu, pertimbangkan juga faktor non-gaji: jarak, jam kerja, peluang belajar, dan stabilitas perusahaan.