Sewa atau Beli Rumah?
Tergantung Berapa Lama Kamu Tinggal
Bukan soal cicilan vs sewa. Yang menentukan adalah tahun ke berapa titik impasnya
Tentang Kalkulator Ini
Membandingkan cicilan dengan sewa itu perbandingan yang timpang
Kalau kamu menyewa, uang DP dan selisih bulanannya tetap ada di tanganmu. Kalkulator ini membuat pengeluaran kedua pilihan sama persis tiap bulan, lalu membandingkan apa yang tersisa setelah sekian tahun: rumah, atau portofolio.
Hasilnya bukan "beli" atau "sewa", melainkan satu angka: titik impas dalam tahun.
Rumah sejenis di lokasi sejenis. Kalau belum tahu, angka ini otomatis dari patokan umum 3–5% harga rumah per tahun.
Setara 4,1% dari harga rumah per tahun
Rp 100 jt
Ini pertanyaan paling menentukan — lebih penting daripada suku bunga
Harga rumah naik berapa per tahun?
IHPR Triwulan I 2026: +0,62% yoy — pertumbuhan terendah sejak seri data dimulai (2003)
Kalau nggak beli, uangnya ditaruh di mana?
Likuid, risiko sangat rendah
Rumahnya baru atau bekas?
Rumah bekas tidak kena PPN — biaya awalnya jauh lebih ringan.
Titik impas beli vs sewa
Nggak ketemu dalam 30 tahun
Dengan asumsi ini, sewa tetap unggul sampai tahun ke-30.
Rencanamu 10 tahun — di titik itu sewa unggul Rp 334.765.440
Kalau beli
Rp 211,3 jt
nilai rumah Rp 531,9 jt − biaya jual − sisa utang Rp 294 jt
Kalau sewa + investasi
Rp 546 jt
total sewa dibayar Rp 256,6 jt
Beban bulanan tahun pertama
Modal awal kalau beli: Rp 136.500.000 (DP Rp 100 jt + biaya-biaya Rp 36,5 jt — BPHTB, notaris, provisi, asuransi). Cicilan naik jadi Rp 4.050.176 setelah fixed 2 tahun habis.
Angka di atas cuma benar kalau selisihnya benar-benar diinvestasikan ⚠️
Hitungan ini mengasumsikan kamu menaruh Rp 1.859.529 setiap bulan di Reksa Dana Pasar Uang (4,5%), bukan dipakai jajan. Kalau selisih itu habis terpakai, sewa kehilangan seluruh keunggulannya — dan KPR justru punya satu kelebihan yang nggak muncul di angka: maksa kamu nabung tiap bulan.
Yang nggak masuk hitungan 🧠
- Rasa aman. Ngontrak berarti kontrak bisa nggak diperpanjang, harga bisa naik sepihak, dan pindahan itu mahal serta melelahkan.
- Bebas ngatur rumah sendiri. Renovasi, pelihara kucing, pasang paku di tembok — hal kecil yang ternyata bikin beda.
- Risiko di dua sisi. Harga rumah bisa stagnan (dan sekarang memang sedang begitu), tapi investasi juga bisa turun. Dua-duanya asumsi, bukan janji.
- Rumah susah dijual cepat. Kalau butuh uang mendadak, portofolio cair dalam hitungan hari; rumah bisa berbulan-bulan.
Lanjut ke langkah nyata 🚀
Bagikan ke yang lagi galau ngontrak 🏠
Ini simulasi berbasis asumsi, bukan ramalan. Kenaikan harga rumah dan imbal hasil investasi tidak ada yang bisa memastikan — ubah salah satunya sedikit saja dan titik impasnya bergeser jauh. Angka pajak dan biaya mengikuti aturan resmi (PPh final 2,5% PP 34/2016, BPHTB 5%, komisi agen Permendag 51/2017), sedangkan asumsi pasar adalah rangkuman Agustus 2026 — patokan IHPR Triwulan I 2026 dari Bank Indonesia. Semua perhitungan dilakukan di browser, tidak ada data yang dikirim. KitaCoba bukan lembaga keuangan dan tidak memberi saran investasi.
Alat Terkait
Kenapa Pertanyaan Ini Sulit Dijawab
Karena dua pilihan ini tidak berjalan di jalur yang sama. Membeli menumpuk biaya besar di awal — DP, BPHTB, notaris, provisi — dan menyimpan satu tagihan lagi di akhir saat dijual: PPh final 2,5% plus komisi agen. Menyewa nyaris tanpa biaya masuk dan keluar, tapi tidak meninggalkan apa pun setelah bertahun-tahun.
Konsekuensinya: makin lama kamu tinggal, makin tipis porsi biaya sekali-bayar itu per tahun, dan makin besar peluang kepemilikan menang. Yang dicari bukan "mana yang lebih murah", melainkan di tahun ke berapa keduanya bertemu.
Kenapa Sewa Terasa Jauh Lebih Murah
Karena imbal hasil sewa rumah di Indonesia umumnya 3–5% per tahun dari harga rumah, sedangkan bunga KPR floating ada di kisaran 11%. Selisih itu langsung terasa tiap bulan. Yang membalikkan keadaan bukan cicilannya, tapi dua hal yang bekerja diam-diam: kenaikan harga rumah, dan fakta bahwa cicilan berhenti setelah tenor selesai sementara sewa naik terus selamanya.
Soal "Harga Rumah Kan Selalu Naik"
Perlu dicek ulang. Indeks Harga Properti Residensial Bank Indonesia Triwulan I 2026 tumbuh 0,62% yoy — pertumbuhan terendah sejak seri data dimulai (2003) — dan beberapa kota malah turun. Dalam contoh standar kalkulator ini, dengan laju kenaikan seperti sekarang titik impasnya tidak tercapai sampai tahun ke-30. Bukan berarti jangan beli rumah — hanya berarti alasan finansialnya sedang lemah, dan alasan lain (rasa aman, kepastian tempat tinggal) jadi lebih menentukan.
Syarat yang Sering Dilupakan
Keunggulan menyewa hanya nyata kalau selisihnya benar-benar diinvestasikan. Menyewa dengan cicilan yang tidak ada lalu menghabiskan selisihnya adalah pilihan terburuk dari ketiganya. KPR, dengan segala bunganya, punya satu keunggulan yang tidak muncul di spreadsheet mana pun: ia memaksa menabung. Kalau kamu tahu diri sendiri sulit disiplin, itu faktor yang sah untuk dimasukkan ke keputusan.
Biaya yang Perlu Disiapkan
- Saat beli — BPHTB 5% di atas NPOPTKP, PPN untuk rumah baru, provisi bank ±1%, notaris/AJB/balik nama ±1–1,5%, appraisal, admin, asuransi jiwa & kebakaran. Lazimnya 6–10% dari harga rumah, di luar DP. Rumah bekas tidak kena PPN, dan untuk rumah baru sampai 31 Desember 2026 pemerintah masih menanggung PPN atas Rp 2.000.000.000 pertama (rumah s/d Rp 5.000.000.000) — kalkulator sudah memperhitungkannya.
- Selama punya — PBB tahunan (tarif ditetapkan perda, maksimum 0,5% menurut UU HKPD) dan perawatan yang lazim dihitung 1–2% nilai rumah per tahun.
- Saat jual — PPh final 2,5% ditanggung penjual (PP 34/2016) dan komisi agen 2–5% kalau pakai jasa agen (Permendag 51/2017).
Terakhir diperbarui: Agustus 2026
Titik Impas per Skenario Kenaikan Harga
| Harga rumah naik | Titik impas | Posisi di tahun ke-10 |
|---|---|---|
| 0,62% / tahun | > 30 tahun | Sewa unggul Rp 334.765.440 |
| 3% / tahun | Tahun ke-27 | Sewa unggul Rp 210.193.274 |
| 6% / tahun | Tahun ke-11 | Sewa unggul Rp 10.313.922 |
Contoh: rumah Rp 500.000.000, DP 20%, tenor 20 tahun, fixed 7% 2 tahun lalu floating 11%, sewa setara Rp 1.700.000/bulan naik 5%/tahun, selisih diinvestasikan di 4,5%/tahun, PBB 0,1% dan perawatan 1% per tahun. Ubah asumsinya di kalkulator — hasilnya bergeser jauh. Rangkuman pasar Agustus 2026.
Pertanyaan Seputar Sewa vs Beli Rumah
Lebih untung sewa atau beli rumah?
Kok cicilan KPR jauh lebih mahal daripada sewa rumah yang sama?
Bukannya harga rumah selalu naik?
Kenapa hitungannya melibatkan investasi?
Kalau selisihnya nggak saya investasikan gimana?
Biaya apa saja yang muncul saat beli dan saat jual rumah?
Berapa lama biasanya titik impasnya?
Jadi anak muda sebaiknya ngontrak dulu?
Catatan
Hasil kalkulator ini bergantung sepenuhnya pada asumsi kenaikan harga rumah dan imbal hasil investasi — dua hal yang tidak ada yang bisa memastikan. Geser salah satunya beberapa persen dan titik impasnya berubah bertahun-tahun. Perlakukan hasilnya sebagai bahan diskusi, bukan kesimpulan.
Angka pajak dan biaya mengikuti aturan resmi yang berlaku (PPh final 2,5% PP 34/2016, BPHTB 5%, komisi agen Permendag 51/2017, batas PBB-P2 UU HKPD), tapi tarif PBB dan NPOPTKP berbeda tiap daerah dan biaya notaris berbeda tiap transaksi.
Model ini juga tidak menilai hal yang tidak berbentuk angka: kepastian tempat tinggal, kebebasan mengatur rumah sendiri, atau risiko kontrak tidak diperpanjang.
Semua perhitungan dilakukan di browser — tidak ada data yang dikirim ke server. KitaCoba bukan lembaga keuangan dan tidak memberikan saran investasi. Terakhir diperbarui: Agustus 2026.